Tentang IP Semester Dua Saya

Kabar gembira bagi pembaca setia blog saya. Saya hari ini sangat senang dan bahagia. Karena itu saya tuliskan artikel ini dengan Comic Sans sebagai bentuk kesenangan yang berlebih

Hal yang membuat saya gembira hari ini adalah IP saya semester dua. Saya mendapat IP sebesar 3,96 (kalau bahasa Inggris begini 3.96) dan ini jauh lebih tinggi jika dibanding dengan semester sebelumnya yang hanya setinggi/sebesar 3,55. IP semester ini benar – benar membuat saya senang dan bahagia.

Bagaimana saya bisa senang dengan IP saya? Inilah pertanyaan yang akan dibahas dalam artikel kali ini. IP saya ini bukan sembarang IP biasa karena IP saya dibahas dalam blog ini, blog langka hanya satu di dunia. IP saya memiliki beberapa perbedaan dengan IP – IP mahasiswa selain saya karena banyak hal diantaranya akan saya bahas kali ini.

Sebelumnya perlu diingat bahwa IP saya adalah nikmat dari Allah. Kalau mau lebih jelas bisa dicari artikel – artikel tentang nikmat Allah. Nikmat harus disyukuri dan ada 3 rukun syukur, bisa di-search sendiri

Saya buatkan dalam bentuk poin – poin supaya para pembaca dapat langsung meringkas gagasan – gagasan dalam artikel ini.

1.     Saya tidak menyontek saat ujian.

Kejujuran adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada IP. Banyak orang tidak sadar bahwa peristiwa penyontekan adalah suatu aib dan kehinaan bagi diri sendiri dan tentu citra mahasiswa karena penyontekan itu sebapak dengan korupsi yaitu “penipuan”.

Saya selalu ingat hadits pelajaran SMP dan MAtentang menipu yang bunyinya “Man ghasyyanaa falaisa minnaa” (siapa yang menipu kami maka bukan termasuk (golongan) kami) haditsnya riwayat Ibnu Hibban dishahihkan Syaikh Al-Albani. Hadits ini benar – benar telah mengubah hidup saya. Lebih lanjut bisa di-search tentang haditsnya.

Sebuah warung dekat pondok ICBB, saya MA disana, memiliki sebuah quote luar biasa yang terpampang di etalase tokonya. Quote tersebut berfungsi sebagai pemberi peringatan bagi calon – calon pembeli berpenipuan. Quote tersebut berbunyi “tidak ada kemuliaan tanpa kejujuran.”

Quote itu menjadi pengganti CCTV warung dan nasihat, dan ini menjadi ide kreatif yang luar biasa. Quote tersebut, selain demi keamanan, telah menyadarkan dan mengajarkan akan pentingnya suatu kejujuran. Penjual warung benar – benar telah melakukan dua hal yang berbeda sekaligus dalam satu langkah, ibarat dalam peribahasa “sekali dayung satu-dua pulau terlewati” dan “sambil menyelam minum air.”

2.    IP saya sebagai penguat mindset “kerja keras” yang baru dua tahun saya pahami dan amalkan.

Selama kuliah saya melihat banyak mahasiswa yang seolah-olah tidak pernah merasakan suatu kesuksesan. Ciri – ciri mereka adalah mereka tidak bisa bekerja keras dan kebiasaannya hanyalah senang – senang saja. Padahal semua orang pernah mengalami kesuksesan besar atau pun kecil. Sebagai contoh: kelahiran ke dunia ini, berhasil ke kelas tepat waktu, bangun tepat waktu, kerja tugas dengan baik, dan lain – lain.

Dahulu saya memiliki mindset begini: prinsip ekonomi adalah dengan modal sedikit mendapat hasil yang banyak. Mindset ini mulai saya pakai pada waktu kelas tiga SMP sampai akhir kelas tiga MA. Kalau mau saya ceritakan perjalanannya sangat panjang dan mungkin perlu artikel baru lagi, nantikan saja Insya Allah.

Saya sadar pada akhir kelas 3 MA bahwa ada yang salah dengan pikiran saya. Jadi saya mencoba mengembangkan diri lagi. Baru ketika mengalami masa – masa kegelapan UN saya menemukan mindset yang lebih baik.

IP saya ini merupakan pemberian Allah dengan sebab (sabab) kerja keras saya. Saya jadi ingat sebuah quote “Man Jadda Wajada” (Siapa berusaha dia akan dapat). Karena itu saya bekerja ribuan detik untuk datang tepat waktu, kerjakan tugas selalu, dan lain – lain.

3.    IP saya terlalu tinggi dari target dan sebenarnya bukan tujuan terbesar.

Saya memiliki ketertarikan dengan gagasan Blue Ocean Strategy sejak kelas 3 MA. Hal ini dikarenakan saya mempelajari sebuah industri Jepang yang sangat terkenal. Perusahaan tersebut mampu mengalahkan lawan – lawannya dan mendominasi pasar dengan melakukan persaingan yang berbeda (menyimpang).

Dalam Blue Ocean Strategy kita mencari sebauh samudera biru tanpa persaingan yang berdarah – darah. Persaingan besar/tinggi IP adalah sebuah samudera merah berdarah – darah karena banyak mahasiswa bersaing disana. Maka terlalu berkutat pada samudera merah adalah hal yang kurang memberikan hasil yang berhasil menurut strategi ini

Sebagai penganut strategi ini saya dari awal sudah pasang target IP yang biasa – biasa saja. Saya lebih memilih samudera biru yang nyaman dan aman. Maka saya bersaing dengan mahasiswa lain dengan values lain yang belum banyak pesaing seperti: kejujuran, kedisplinan, keuletan, dan lain – lain. Menulis blog seperti ini termasuk value yang belum banyak pesaing di lingkungan fakultas saya.

Sebuah anugerah yang luar biasa ketika anda mendapat sesuatu yang melebihi harapan anda. Ibarat seperti peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga.”

Saya bersyukur kepada Allah atas nikmatnya yang Dia berikan kepada saya. Semoga Allah memberikan kepada saya dan pembaca blog ini nikmat dan hidayahnya.

Kalau ada salah jangan diambil, kalau ada benar bisa diambil. Berkata Imam Abu Hanifah “Jika telah shahih suatu hadits maka itulah madzhabku”.

Terima kasih telah membaca blog saya. Jangan ragu untuk bertanya di komen atau bertanya langusng ke +6285740640590.

You may also like...

1 Response

  1. Korupsi kebnyakan berupa penipuan, penyelewengan dana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *