Pengalaman Semester Tiga: Pentingnya Pengembangan Teori Sastra bagi Bangsa dan Umat

Semester lalu saya menulis tentang IP semester saya. Awalnya, saya menulisnya sekedar untuk menambah tulisan di blog saya dan memenuhi permintaan seorang teman saya yang ingin tahu IP saya. Namun, ternyata tulisan saya menjadi hit di blog saya karena banyak orang yang tertarik mencari tahu IP orang (mungkin). Sekarang tulisan saya tersebut menjadi top nomor dua di blog saya.

Kali ini saya akan membagikan pengalaman semester tiga yang telah berlalu dan sekarang di penghujung di masa liburan semesternya. Semester tiga di Sastra Inggris Unhas adalah salah satu semester yang tidak menarik. Pada semester tiga, mahasiswa mulai diajari menulis, berbicara, dan mendengarkan bahasa Inggris. Selain diajari skill berbahasa Inggris, mahasiswa juga ditambahi pelajaran teori sastra II, morfologi, dan kebudayaan Amerika-Inggris-Australia. Hanya ada dua hal yang menarik dari semester ini, yaitu saya bisa belajar tentang teori sastra dan kebudayaan Amerika.

Artikel ini akan membahas tentang teori sastra dulu.

Belajar teori sastra yang berasal dari Barat memang membuat saya menjadi lebih mengenal bagaimana Barat memahami sebuah karya sastra. Kesastraan mereka bisa dikatakan lebih terkenal dari kesastraan kita sehingga teori – teori yang mereka kembangkan lebih cepat mendunia. Teori – teori mereka telah masuk ke berbagai negara termasuk Indonesia. Kebanyakan teori – teori yang dipelajari di Sastra Inggris berasal dari Eropa, Amerika, dan Rusia. Teori – teori mereka terus berkembang, bermunculan dan beberapa saling bertentangan.

Sebagai contoh adalah teori yang bersifat strukturalis yang selalu bangkit lalu ditentang lagi oleh pendekatan lain. Strukturalisme murni kemudian ditentang oleh Strukturalisme Genetik. Lalu, Formalisme menolak unsur sejarah dan biografi pengarang dari karya sastra kemudian mati karena masa Lenin. New Criticism kemudian dibantah oleh pendekatan historis dan modernism. Kemunculan Neo-formalisme pada akhir abad 20 menjadi semangat strukturalis baru yang sebelumnya telah mati dengan runtuhnya New Criticism pada tahun 1960-an. Setiap teori sastra tidak ada yang sempurna dan pasti akan ditemukan titik lemahnya. Wajar saja, teori sastra itu karya manusia sehingga terus berubah dengan perubahan masyarakat juga.

Teori – teori yang bersifat strukturalis membuat saya tertarik karena beberapa hal. Pertama, teori – teori ini selalu muncul ketika pengkritikan karya sastra mulai terlalu jauh dari teks karya sastra. Suatu karya sastra adalah sebuah teks sehingga sangat penting untuk lebih teliti dan fokus terhadap karya tersebut dari hal – hal yang lain. Kedua, teori – teori ini dapat menjaga keindahan bunyi (rima) dan teks puisi – puisi yang bermunculan di eranya. Beberapa teori yang bersebarangan dengan teori strukturalis cenderung mengesampingkan keindahan suatu teks. Sebagai contoh mungkin adalah puisi – puisi era sekarang yang teksnya banyak tidak memiliki rima. Bagi saya, teori – teori strukturalis harus selalu muncul sebagai bentuk penjagaan terhadap keindahan teks.

Hal Penting

Kita, Indonesia, selayaknya mengembangkan teori sastra hasil kerja kita sendiri. Selama ini, kita terlalu tergantung dengan teori sastra dari dunia luar padahal kita memiliki dunia sendiri dan mampu mengembangkan teori kita sendiri. Berbeda dengan kesastraan Inggris, kesastraan Indonesia harus memiliki nilai – nilai yang diakui oleh bangsa dan tidak sebebas – bebasnya sehingga melanggar nilai – nilai yang berlaku di Indonesia, terutama ketuhanan.

Sebagai contoh kasus adalah puisi WS Rendra Ku Panggili Namamu. Dalam puisi ini, WS Rendra mengungkapkan bahwa Tuhan hanya memperdulikan hal – hal yang besar saja. Hal ini termasuk berburuk sangka dan perendahan terhadap Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak memperdulikan hal yang kecil. Allah itu maha mengetahui dan maha mampu apalagi hanya sekedar untuk memperdulikan WS Rendra. Selain itu, Allah juga memiliki sifat pengasih dan penyayang sehingga menyebutkan bahwa Allah hanya memperdulikan hal – hal yang besar adalah keliru.

Kita tidak akan bisa mengkritik pedas perkataan tentang Tuhan dalam puisi WS Rendra tersebut dengan teori – teori strukturalis, historis, atau teori lainnya. Harus ada sebuah teori yang bisa mengkritik puisi seperti ini dalam dunia kesastraan untuk menjaga pengesaan terhadap Allah. Jika teori seperti ini tidak diadakan, saya khawatir bahwa masa depan kesastraan Indonesia akan melahirkan lebih banyak puisi yang bertentangan dengan ketuhanan yang Maha Esa.

Hal seperti ini tidak mustahil. Sebagai contoh kasus adalah teori feminisme wanita. Teori ini dapat (secara sah dalam ilmu kesastraan) mengkritiki peran perempuan dalam suatu karya sastra. Seharusnya juga bisa mengkritiki hal – hal yang bertentangan dengan bertentangan dengan ketuhanan yang Maha Esa.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *