Dilema Anak Bahasa dan Sastra: Mengapa Linguistics? Bukan Sastra.

Moscow State University

Memilih penjurusan atau disebut juga dengan konsentrasi di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris termasuk hal yang sangat penting. Di sebagian universitas bahkan hal ini sangat menentukan mata kuliah yang akan diambil pada semester – semester berikutnya. Sebagai contoh adalah di Sastra Inggris Universitas Hasanuddin. Mahasiswa yang memilih konsentrasi Linguistik tidak akan mendapatkan mata kuliah berbau kesastraan setelah semester tiga begitu juga sebaliknya. Karena mata kuliah yang berbeda, tentu saja pembahasan karya tulis ilmiah akhir pun juga berbeda. Bagi yang memilih penjurusan sastra, mereka tidak bisa mengambil permasalahan linguistik. Adapun bagi yang memilih penjurusan linguistik, mereka dapat meneliti karya – karya sastra tapi tentu saja bukan sebagai karya sastra tapi objek linguistik.

Saya kali ini ingin membagikan pengalaman saya kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (kalau di Universitas Hasanuddin, namanya masih Sastra Inggris). Pada semester tiga, saya mengalami pengalaman seperti ini ketika saya harus memilih satu dan meninggalkan yang lainnya. Seperti puisi The Road Not Taken karya Robert Lee Frost. Terkadang memang ada sedikit penyesalan, namun hal itu sudah terjadi dan saya sudah memutuskan sehingga tidak ada lagi jalan untuk kembali ke masa lalu. Keputusan saya untuk memilih Linguistik adalah sebuah akhir dari masa – masa kecipung saya dengan kesastraan Inggris dan awal dari sebuah pelampiasan dahaga keingin-tahuan akan bahasa dan manusia.
Moscow State Linguistics University
Awalnya saya mendapatkan motivasi dari para senior untuk memilih linguistik. Semua kenalan senior tersebut merupakan anak Linguistik dan tentu saja mereka menyarankan untuk mengambil Linguistik. Seorang senior S2, yang kebetulan mengambil Linguistik juga, sangat membuat saya tertarik dengan Linguistik. Dia melakukan penelitian bahasa di suku pedalaman hutan di Sumatera. Hal ini lah yang membuat rasa ketertarikan saya terbuka untuk pertama kali. Bagaimana sebuah ilmu pengetahuan, yang terlihat tak ada hubungannya dengan hutan belantara dan lingkungan alam, dapat menjelaskan fenomena di tengah hutan. Ada juga senior yang mengatakan bahwa Kesastraan itu kajiannya terlalu sempit sedangkan Linguistik jauh lebih luas daripada Kesastraan. Hal ini sangat tepat karena fenomena bahasa ada di segala aspek kehidupan sedangkan Kesastraan hanya ada di karya – karya sastra. Luasnya Linguistik dan kemampuan Linguistik ini lah inspirasi dari seniot yang membuat saya memilih Linguistik.
Orang yang suka melawan arahan orang lain adalah salah satu tabiat saya sehingga saya tidak langsung begitu saja memilih Linguistik. Saya pun harus membaca dan menonton berbagai tulisan, artikel, pidato, presentasi, dan kuliah di internet sebelum memutuskan mengambil Linguistik. Akhirnya saya menemukan beberapa tokoh yang memiliki pengaruh dalam linguistik seperti Noam Chomsky, Lera Boroditsky, dan Steven Pinker. Noam Chomsky dengan pendapatnya bahwa kemampuan bahasa adalah suatu kemampuan yang ada dalam diri manusia sejak manusia itu lahir dengan kata lain kemampuan berbahasa itu bukan lah sekedar kebiasaan. Pendapat ini tentu saja sangat menarik karena membuka arah baru dalam linguistik dan membantah pandangan BF Skinner behaviorisme yang legendaris. Pembahasan hubungan pikiran dan bahasa dari hasil penelitian Lera Boroditsky adalah juga merupakan hal yang menarik. Meskipun pendapat bahwa bahasa mempengaruhi pikiran sudah ada sejak lama, Lera Boroditksy mampu menghidupkan kembali pendapat tersebut dan membuatnya lebih bergairah dengan data – data terbaru dan tentu saja latar belakang Boroditsky yang merupakan seorang polyglot dan peneliti kognisi. Sementara, Steven Pinker yang merupakan profesor dalam bidang psikologi di Harvard  mengutarakan dalam videonya mengenai linguistik di Youtube bisa dilihat di link ini. Hal yang menarik adalah seorang profesor psikologi  dapat memiliki ketertarikan dengan Linguistik yang bukan bidangnya. Ibarat seperti seorang idola yang mengidolakan idola yang lain. Ketiga pendapat ini lah yang membuat saya memilih Linguistik.
Ransom Hall di Kenyon Collage
Nama Ransom diambil dari nama pencetus The New Criticism
Pada dasarnya, saya merupakan orang yang memiliki ketertarikan dengan Kesastraan dan itu terbukti dengan usaha saya untuk mengumpulkan puisi – puisi favorit. Setidaknya pada masa – masa ketertarikan saya dengan Kesastraan, saya mengumpulkan sekurang – kurangnya 5 puisi setiap dua bulan. Tentu ini bukan lah hal yang sangat mudah karena saya harus membaca puisi dan melihat mengapa puisi ini menarik bagi saya. Sehingga saya pun sudah mengenal puisi – puisi Amerika Serikat seperti The Road Not Taken, The Art of Losing, O Captain My Captain, dan lain – lain. Namun semua ketertarikan tersebut saya tutup pada akhir semester tiga. Saya sudah menemukan dua teori yang akan saya anut untuk puisi – puisi saya pada masa depan. Teori itu adalah Formalisme dan The New Criticism; keduanya merupakan teori yang memisahkan antara pengarang dan karyanya. Lebih jauh lagi, saya memutuskan untuk tidak menambah pengetahuan teori dan segala hal yang berhubungan dengan Kesastraaan. Pendapat saya mengenai belajar sastra adalah belajar sastra akan membuat puisi saya menjadi puisi karbitan. Puisi saya tidak akan menjadi puisi yang benar – benar otentik dan baru dari saya karena pengetahuan saya telah mendahului puisi – puisi saya. Puisi saya tidak lagi merupakan hasil dari luapan emosi tetapi lebih kepada produk teknologi hasil pengetahuan sastra yang ada di kepala saya. Keputusan saya menganut menganut dua teori ini dan berhenti belajar sastra adalah hal utama yang membuat saya memilih untuk meninggalkan Kesastraan sepenuhnya.

Massachusetts Institute of Technology
Setidaknya tiga hal diatas adalah alasan terbesar saya memilih Linguistik pada awal semester 4. Mungkin ketiga alasan tersebut tidak lah lagi menjadi alasan kuat saya untuk saat ini karena pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa menguasai semua kajian dalam Linguistik dan kita harus meninggalkan harapan – harapan mimpi lama yang tidak akan dapat terwujud. Pada awalnya dulu saya tertarik sekali dengan dua pembahasan Linguistik yang sangat menarik; yaitu Relativisme Bahasa dan Bahasa Hewan. Tentu saja dua hal ini tidak akan pernah saya capai saat ini karena keterbatasan kemampuan saya dan kemampuan dosen – dosen yang tersedia. Dan untuk tugas akhir ini, saya memutuskan untuk menggunakan Systemic Functional Grammar (SFG) milik Halliday karena hanya ini lah yang menurut saya dapat dilakukan untuk membahas fenomena – fenomena bahasa akibat Virus Corona. Tentu saja SFG hanyalah satu gelas dari samudera Linguistik yang tak pernah akan surut.
Terima kasih telah membaca postingan saya yang pertama setelah kematian blog ini selama satu tahun lebih.
Di paragraf terakhir terjadi beberapa kekurangan penyusunan pragraf anda bisa kritik di komen.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *