Bagaimana Perjalanan Saya dan Nilai Saya

Bagaimana Perjalanan Saya dan Nilai Saya

Pixabay


 

KELUARGA

Sebagaimana dengan yang lainnya, saya terlahir di tengah – tengah keluarga yang memiliki kemampuan untuk bersekolah yang bagus. Kemampuan secara materi dan kemampuan secara intelegensi. Ada lah hal yang biasa ketika ada diantara kami mempunyai prestasi di sekolahan, nilai rapor yang bagus, dan lain – lain. Semua hal itu bukan lah hal yang spesial dan membuat seseorang spesial diantara kami.

 

SD – PONDOK

Saya teringat saat masih di bangku sekolah dasar, setiap kali saya akan ikut perlombaan, orang tua saya pun tidak pernah memberikan perlakuan khusus. Saya dianggap sebagai seorang anak SD seperti biasa saja. Mungkin hal ini tampak seperti tidak memperdulikan anak yang berprestasi namun saya tidak memandangnya demikian. Ini adalah bentuk perhatian orang tua saya bahwa anak – anaknya tidak akan terukur dengan berapa lomba yang mereka telah menangkan atau pun berapa nilai yang dia raih.

 

Sejak di bangku sekolah dasar pun, saya sudah mempertanyakan permainan sepak bola teman – teman saya. Mengapa teman – teman saya bersedih ketika lawan mencetak skor. Bukan kah yang lebih baik kita bersama berbagi kemenangan. Kita senang, tim kita mendapat skor dan kita juga senang, tim lawan mendapat skor. Tidak ada kalah atau pun menang dalam sebuah permainan, yang ada adalah senang dan bahagia bersama.

 

Hal lain yang sangat terkesan dalam orang tua saya adalah ketika Bapak saya mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan nilai apa pun yang saya peroleh yang dia peduli kan hanyalah ilmu agama yang saya miliki. Ya, nasihat ini lah yang kemudian masuk ke alam bawah sadar saya dan kini telah mendarah daging. Saya benar – benar tidak mengejar nilai dan tidak memperdulikan persaingan ranking dengan teman. Saya selalu fokus pada apa yang saya miliki bukan peroleh.

 

Saat di pondok pesantren, saya hidup di tengah – tengah semua kalangan orang. Mulai dari mereka yang dikatakan keterbelakangan intelegensi sampai mereka yang berlabel berotak encer. Sistem pendaftaran di pondok – pondok saya dulu adalah mereka tidak menghalangi siapa pun yang mendaftar untuk bersekolah di pondok. Memang ada kritikan bahwa pondok terlalu bermudah – mudahan untuk menerima siswa baru tanpa penyaringan namun di samping itu, ini adalah kelebihan dimana keberagaman latar belakang akan terbentuk dari berbagai jenis siswa yang membentuk sebuah lingkungan.

 

Sebuah ungkapan bagus dari salah satu petinggi di sebuah sekolah di Jawa Barat, “jika hanya orang – orang bagus yang diterima, maka mau dikemanakan orang – orang yang tidak bagus.” Guru SMP saya juga memiliki ungkapan sejenis, “kami tidak menghalangi siapa pun yang ingin masuk pondok pesantren.” Ya, pendidikan seharusnya adalah untuk semuanya bukan untuk kalangan – kalangan yang spesial.

 

MASA KINI

Karena hal – hal itu lah, saya tidak tumbuh menjadi seorang yang memiliki ambisi untuk menjadi atau merasa sebagai seorang yang spesial. Saya selalu merasa seperti orang lain meskipun saya ini sedikit berbeda. Hanya satu hal yang dapat membedakan seseorang dengan yang lainnya yaitu ketaqwaan.

 

Saya tumbuh menjadi orang yang selalu ingin untuk sukses bersama bukan menjadi pemenang tersendiri atau pun melihat orang lain menjadi lebih rendah. Membantu mereka yang membutuhkan dan membangun kesuksesan bersama bukan kemenangan diatas kekalahan.

 

PENERAPAN

Pada pendidikan, saya lebih mengarah kepada apa yang akan saya miliki setelah sebuah proses pembelajaran. Apakah saya akan menjadi orang yang mampu mengalahkan orang lain atau saya menjadi orang yang akan melengkapi kehidupan dengan orang lain. Jika saya berusaha mengalahkan orang lain tentu saja saya hanya akan berhadapan dengan banyak persaingan. Namun, jika saya memilih untuk melengkapi, maka saya tidak menjadi musuh bagi mereka yang berprestasi sekaligus memenangkan persaingan tanpa perlawanan, tanpa mengalahkan, dan bahkan tanpa “prestasi”.

 

Ketika Ujian Nasional misalnya, banyak orang yang berpikir bagaimana dia dapat menyelesaikan soal – soal ujian dengan baik tetapi saya tidak seperti itu. Saya mencoba untuk bagaimana hasil belajar saya sebelum masa ujian itu akan berbekas hingga masa yang panjang. Daripada saya belajar untuk menghasilkan nilai maksimal, saya justru belajar bagaimana saya menjadi seorang pelajar yang baik. Misalnya, mengurangi kemalasan, tidur di kelas, dan terlambatan, Apa guna saya mengejar nilai tetapi saya hanya mendapatkan kertas dan tidak memilikinya dalam diri saya. Nilai akan mengantarkan kepada persaingan namun kemampuan yang saya miliki itu lah yang akan membuat saya melengkapi dunia.

 

HARAPAN YANG GAGAL

Setelah hampir menyelesaikan bangku sekolah menengah atas, saya mencoba untuk mencari tempat dimana nilai tidak pernah dijadikan sebagai sebuah standar kelulusan. Ya, saya ingin untuk masuk ke pondok pesantren tradisional. Saya lebih yakin di sana bahwa saya akan lebih dapat mengasah kemampuan saya dengan tanpa terjadi penilaian dengan angka. Ketika hal – hal diukur dari apa yang anda miliki bukan apa yang anda dapatkan.

 

Tapi, sayang saya diterima di Universitas Hasanuddin. Jadi, saya tidak jadi mondok. Mau tidak mau, saya dapat melihat sebuah sistem yang berurusan dengan angka. Memang seringkali saya terbawa arus tetapi tetap saja saya selalu ingin untuk menang bersama dan tidak menjadi juara. Hal ini saya buktikan dengan saya yang membantu orang – orang yang membutuhkan jawaban selain pada waktu ujian.

 

KELEMAHAN

Mungkin memang apa yang saya dapatkan ini menjadikan saya menjadi orang yang tidak mempunyai daya saing. Saya teringat bahwa sejak kecil saya tidak pernah memenangi perlombaan. Jika saya diuji kualitas dengan orang lain, sudah pasti saya akan selalu tertinggal. Memang tampaknya ini adalah kekurangan saya namun ini adalah suatu kelebihan dimana anda tidak menjadi ancaman orang lain sekaligus memiliki kesuksesan. Kesuksesan anda sudah pasti akan menghalangi kesuksesan orang lain namun dengan apa yang terjadi pada saya, kesuksesan adalah milik semua yang mengejarnya.

 

KEKECEWAAN

Adalah hal yang sangat mengecewakan bagi saya, ketika sebuah instansi menganggap seseorang itu berprestasi sementara yang lain tidak. Semua memiliki prestasinya masing – masing. Saya pernah melihat pujian di kampus dalam sebuah baliho besar dengan tulisan semakna dengan “Selamat atas terpilihnya … sebagai mahasiswa teladan.” Ini adalah bukan sebuah motivasi tapi ini adalah pemadaman terhadap saya yang memang tidak memenangi, bahkan tidak mengikuti lomba mahasiswa teladan. Ini membuat diri saya yang tidak memiliki ingin untuk bersaing menjadi semakin tidak termotivasi. Juara hanya 1 sampai 3 tetapi pujian adalah milik semua.

 

SARAN

Kita harus membuat definisi baru dari prestasi. Prestasi bukan lah sebuah nilai atau apa yang telah diperoleh. Prestasi adalah apa yang kita miliki dan ada dalam diri kita masing – masing. Mereka punya keunikan, nilai tersendiri, dan sesuatu yang patut dihargai yang dapat digali untuk menjadi suatu manfaat bagi kehidupan.

 

TANTANGAN

Sekarang saya sedang menunggu, apakah prinsip – prinsip yang saya pakai akan dapat membuat saya sukses. Dan, jika pun saya gagal, kegagalan apa yang terjadi. Apakah prinsip – prinsip saya yang gagal atau kah lingkungan saya yang gagal. Saya sedang semester – semester akhir perkuliahan dan sebentar lagi saya akan mengadapi dunia dan manusia yang sebenarnya.


CATATAN 

Apa yang terjadi pada saya adalah apa yang saya alami dan dapat berbeda pada orang lain.

Saya sudah berusaha membuat tulisan ini jelas dan runtut namun memang saya masih kurang pengalaman untuk memakai retorika seperti ini sehingga tulisan ini saya rasa kurang jelas. Jika ada kekurangan tolong dikomen. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *