Analisis Puisi To Be or Not To Be

To Be or not To Be adalah sebuah puisi yang diambil dari drama Hamlet karya William Shakespeare. Puisi ini merupakan bagian dari Hamlet yang paling terkenal. Puisi ini terletak di Act 1 Scene 3 (atau terbalik; saya lupa).

Berikut adalah bunyi puisinya

To be, or not to be, that is the question:

Whether ’tis nobler in the mind to suffer

The slings and arrows of outrageous fortune,

Or to take arms against a sea of troubles

And by opposing end them. To die—to sleep,

No more; and by a sleep to say we end

The heart-ache and the thousand natural shocks

That flesh is heir to: ’tis a consummation

Devoutly to be wish’d. To die, to sleep;

To sleep, perchance to dream—ay, there’s the rub:

For in that sleep of death what dreams may come,

When we have shuffled off this mortal coil,

Must give us pause—there’s the respect

That makes calamity of so long life.

For who would bear the whips and scorns of time,

Th’oppressor’s wrong, the proud man’s contumely,

The pangs of dispriz’d love, the law’s delay,

The insolence of office, and the spurns

That patient merit of th’unworthy takes,

When he himself might his quietus make

With a bare bodkin? Who would fardels bear,

To grunt and sweat under a weary life,

But that the dread of something after death,

The undiscovere’d country, from whose bourn

No traveller returns, puzzles the will,

And makes us rather bear those ills we have

Than fly to others that we know not of?

Thus conscience does make cowards of us all,

And thus the native hue of resolution

Is sicklied o’er with the pale cast of thought,

And enterprises of great pitch and moment

With this regard their currents turn awry

And lose the name of action.

.

Puisi ini cukup panjang dan susah dipahami. 

Secara keseluruhan puisi ini menggambarkan perasaan Hamlet yang sedang galau. Ia galau setelah menyadari bahwa raja yang sekaligus pamannya adalah pembunuh ayahnya yang merupakan raja sebelum pamannya. Selain membunuh ayahnya, pamannya juga menikahi ibu Hamlet. Hal inilah yang membuat pangeran Hamlet galau dan ingin bertindak terhadap pamannya.

Hamlet berpikir mengenai apa yang harus ia lakukan. Pertama, ia harus menderita karena perbuatan pamannya. Pamannya telah membunuh ayahnya. Ditambah lagi, pamannya menikahi ibunya sendiri. Kedua, ia harus melawan pamannya yang merupakan raja di Denmark. Jika ia melawan pamannya ia berarti memberontak kerajaannya.

Pada akhirnya, Hamlet pun memilih melawan pamannya.

Komentar saya mengenai puisi ini adalah ini puisi ekstrimis. Saya tidak sembarangan berkomentar karena saya memiliki alasan yang kuat. Saya juga mengatakan bahwa Hamlet adalah orang ekstrimis yang terjebak dalam retorika sendiri.

Hamlet terlalu berlebihan dalam menanggapi kejadian yang menimpa dirinya sehingga dia tidak dapat berpikir dengan jernih. Ia merasa bahwa hanya ada dua pilihan dalam hidupnya, sangat menderita atau melawan kenyataan secara brutal dan tergesa2. Padahal ia bisa mencari solusi lain.

Hamlet juga terjebak dalam retorikanya sendiri. Ia terjebak dengan perkataannya sendiri yang hanya ada dua pilihan hidup baginya. Padahal jika dipikirkan secara jernih, ada banyak cara untuk membalas dendam selain lewat jalur brutal.

Bahkan pilihan Hamlet untuk membalas dendam juga harus ditinjau ulang. Apakah akan menghasilkan kebaikan kalau ia membunuh pamannya. Atau, bahkan bisa menimbulkan kekacauan bagi kerajaan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *